Biaya Admin Shopee dan Tokopedia Kian Meningkat, Apakah Social Commerce Jadi Solusi untuk Seller UMKM?
Biaya admin ecommerce semakin naik, UMKM putuskan migrasi ke social commerce? Simak selengkapnya di sini!
Saat ini, tren social commerce semakin meningkat. Selama beberapa tahun terakhir platform e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia menjadi “rumah kedua” bagi UMKM di Indonesia. Namun, kini sebagian pelaku usaha mulai melirik alternatif lain, salah satunya social commerce.
Tingginya Biaya Admin Jadi Faktor Utama
Kepindahan para pelaku usaha ke social commerce tentu bukan tanpa alasan. Center of Economic and Law Studies (Celios) menganggap bahwa tingginya biaya admin yang diberlakukan e-commerce menjadi alasan utamanya.
“Dampak dari tingginya biaya admin bukan hanya ke margin pelaku UMKM yang berjualan di e-commerce saja, tetapi juga permintaan konsumen,” kata Nailul Huda selaku Direktur Ekonomi Digital Celios, Rabu (4/3/2026).
Dampak yang Dirasakan oleh Seller dan Buyer
Lantas, apa yang terjadi jika biaya ini terus melambung? Dilansir dari Bisnis.com, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menjelaskan bahwa secara alamiah, pelaku usaha akan membebankan biaya tersebut kepada konsumen. Akibatnya, harga barang menjadi lebih mahal.
Konsumen yang keberatan dengan kenaikan harga kemungkinan akan berpikir dua kali untuk membeli atau mulai mencari alternatif lain. Di sisi lain, pelaku usaha pun tentu tidak ingin kehilangan pasarnya.
Selain itu, Biaya Admin yang Membengkak Tersebut Membuat Kemen UMKM Berencana Melaporkannya ke Presiden.
Migrasi Besar-besaran ke Social Commerce?
Hal yang paling bisa diamati adalah mulai berpindahnya para pelaku usaha ke social commerce.
Para pengamat memprediksi akan terjadi pergeseran transaksi menuju kanal social commerce. Bukan hanya melalui fitur toko seperti TikTok Shop, tetapi juga transaksi langsung via Instagram, Facebook, WhatsApp, dan TikTok.
"Apalagi jika tokonya sudah dipercaya oleh konsumen. Mereka bisa pindah ke social commerce yang memang tidak ada biaya administrasi dan sebagainya," jelas Nailul Huda.
Para pelaku usaha cukup dengan mengunggah foto produk di Instagram Story atau katalog WhatsApp, transaksi pun bisa terjadi tanpa harus memikirkan biaya admin.
Baca juga: Social Commerce Adalah: Pengertian, Kelebihan, dan Bedanya dengan Ecommerce
Lalu, Bagaimana Cara Aman Bertransaksi di Social Commerce?
Meski begitu, social commerce juga memiliki risiko tersendiri. Tidak adanya pihak ketiga sebagai penjamin keamanan membuat metode ini rentan penipuan.
Maka dari itu, penting untuk memastikan kredibilitas pelaku usaha serta testimoni dari orang-orang yang telah membeli produk tersebut sebelumnya.
Berikut beberapa tips untuk bertransaksi di social commerce:
Untuk Pembeli:
- Cari referensi atau ulasan dari pembeli sebelumnya.
- Jangan mudah tergiur harga yang terlalu murah.
- Jika memungkinkan, gunakan fitur transaksi di platform seperti Instagram Shopping.
Untuk Penjual:
- Bangun reputasi secara konsisten.
- Tunjukkan proses produksi atau pengemasan produk dalam konten.
- Kredibilitas yang kuat dapat membuat pelanggan tetap percaya tanpa perantara.
Fenomena kemungkinan migrasi UMKM ke social commerce ini menjadi sinyal bahwa lanskap bisnis digital terus berevolusi.
Meskipun bebas biaya admin menjadi daya tarik utama, baik penjual maupun pembeli tetap harus mengutamakan keamanan dalam bertransaksi.
Pada akhirnya, kepercayaan dan reputasi akan menjadi mata uang paling berharga di era digital ini.
Ethix Indonesia
https://ethix.id/A Jakarta-based e-logistics solutions company equipped with experienced management team in warehouses industry, integrated warehouse management system with standard business process and infrastructure, ethix.id aims to ease your way in growing phase.
Contact Us
Get in touch with the right people at Ethix.id, fill out the form or message us at via Whatsapp. We’ll put you in touch with the right team
By submitting, you agree to Ethix.id Privacy Policy
